Langsung ke konten utama

a Broken Family doesn't mean a Broken Life

Hello!
Kali ini aku mau bahas tentang Broken Family. Untuk kalian yang mungkin mengalami hal serupa pada keluarga kalian, jangan selalu menganggap itu awal dari kehancuran hidup kalian yaa..
Kita boleh sedih, kecewa, kesal, atau marah sekalipun. Just do it, jangan ditahan-tahan. Silakan luapin apa yang kita rasakan sampai puas, sampai ga ada yang tertahan lagi. Menurut aku ga ada yang salah kok sama itu semua. Tapi pastiin hanya untuk satu waktu itu aja, jangan biarin diri kita berlarut-larut dalam kesedihan dan kemarahan itu. Kita pasti bisa kok bangkit dan ngelanjutin hidup kita kayak biasanya lagi. Kalo kita emang ada kemauan untuk bangkit dari keterpurukan pasti bisa, kuncinya cuman tergantung kemauan dari diri kita sendiri aja. 
Yakinin dalam diri kalo yang gagal itu cuman hubungan antara ibu dan ayah kita. Bukan tentang kita dan kehidupan kita. Jangan juga nyalahin orang tua, keadaan, bahkan Tuhan atas apa yang udah terjadi. Ga ada yang perlu disalahkan, bahkan diri kita sendiri. Jangan bikin diri kita nyesel suatu saat nanti karena kita cuman sibuk menyalahkan, tanpa mau coba bangkit dan membenahi. Percaya aja kalo Tuhan bakal nyiapin sesuatu yang lebih baik nantinya. Atau bahkan sesuatu yang baik itu beriringan dengan masalah yang ada, tapi kita menutup semua indera kita sampai akhirnya ga menyadari itu. Coba biasakan diri kita untuk memandang sesuatu hal itu secara positif. Aku tau itu memang sangat sulit pada awalnya, tapi kalau udah terbiasa itu sangat-sangat menguntungkan diri kita sendiri. Dan kita harus mencoba agar menjadi terbiasa nantinya. 

Jangan juga berpikir kalau orang tua kita egois, hanya memikirkan diri mereka sendiri. Pikirin lagi deh baik-baik, dengan tenang, jangan hanya merasa menjadi korban, dan jangan terfokus sama satu sudut pandang. 
Mereka pasti udah mempertimbangkan semuanya, termasuk anak-anaknya. Justru kalaupun memang akhirnya harus berpisah, mungkin itu keputusan terbaik yang harus mereka ambil setelah mempertimbangkan banyak hal. Jika mereka tetap mempertahankan untuk terus bersama, bisa jadi itu malah tidak baik untuk kita sebagai anak-anaknya. Karena kita harus mendengar dan mengetahui perdebatan mereka secara terus-menerus, atau menjadi pelampiasan dari rasa kesal diantara mereka. Hal itu bener-bener ga sehat jika terus dialami berulang untuk kita sebagai anak, bahkan orang tuanya sekalipun. Harus kita ingat, kalau orang tua kita juga tetap manusia yang mempunyai batas dan kesabaran. Mereka ga mungkin bisa kuat untuk selalu diam dan menyembunyikan masalah yang ada demi tidak ingin diketahui oleh anak-anaknya. Mereka akan mengeluarkan itu sewaktu-waktu, yang kelak bisa lebih buruk jika menjadi konsumsi untuk anak-anaknya. Kita harus coba memposisikan diri kita di posisi mereka juga, coba untuk mengerti keadaan mereka. Karena bukan cuman kita yang sedih dan kecewa, mereka bisa lebih-lebih merasakan itu tanpa kita tahu. Belum lagi perasaan bersalah yang mereka bawa karena merasa gagal menciptakan keluarga yang bahagia untuk anak-anak mereka, ga mudah juga untuk mereka ambil keputusan itu. Mereka ngelakuin itu demi kebaikan kita dan juga mereka. Kita ga bisa memaksakan kehendak dan takdir yang udah Tuhan gariskan. Tuhan tahu apa yang terbaik untuk kita semua.

Dan jangan pernah takut dengan kenyataan kalau kita adalah anak broken family, karena kita masih bisa untuk milikin dunia ini sepenuhnya, kita masih bisa untuk ngelakuin apapun yang kita mau, juga satu hal yang paling penting, bahwa kita masih pantas untuk dicintai dan bahagia. Ga ada yang salah dengan embel-embel 'broken family' yang orang lain bilang. Kita bisa buktiin sama orang-orang yang masih suka men-cap dan memandang sebelah mata anak, kalau kita bisa jadi apa yang mungkin mereka kira gabisa, kalau kita mampu dan layak untuk itu. Tinggal balik lagi ke diri kita sendiri, apakah kita akan mengambil kesempatan yang ada dan mematahkan stigma orang-orang, atau hanya pasrah dan membiarkan orang-orang itu membuat kita selalu merasa bersalah dan tidak berguna untuk hidup. 

Tapi ada yang mesti diingat, kalau ga semua hal yang kita lakukan untuk melampiaskan rasa kecewa dan sedih itu melalaui hal-hal negatif hanya demi mendapatkan sebuah perhatian. Ingat ya, anak broken family itu bukan berarti broken life. Jadi ga perlu harus mabok-mabokan, narkoba, balapan liar, atau hal-hal lainnya yang bisa merugikan diri kita sendiri. Kita kan bisa mencari perhatian dengan cara yang lain, semisal menjadi juara di kelas, mengikuti lomba, mendapat penghargaan, dan banyak hal positif lainnya yang menguntungkan kita dibanding perlahan merusak kehidupan kita. Orang tua kita udah cukup memikirkan banyak hal dan rasa bersalah yang mereka punya. Kita tidak seharusnya menambah masalah diatas masalah yang ada kan? 
Kita tau kalau keluarga itu harus saling membantu. Jadi kenapa kita tidak menjalankan peran itu? Membantu bukan hanya dengan solusi kok, tapi tidak membuat keadaan menjadi lebih sulit juga termasuk bantuan untuk menata kembali hal-hal yang terlanjur tidak bisa diperbaiki. Justru dengan kita melakukan hal-hal positif membuat mereka bangga dan mengurangi sedikit rasa bersalah yang ada. 

Salah satu hal yang selalu aku percaya, bahwa "everything happens for a reason"

Pasti ga asing kan sama kata-kata itu? Dari dulu dan sampai detik ini aku masih percaya dengan kalimat itu, karena memang benar kalau semua hal yang terjadi itu pasti ada alasannya, ga mungkin ga ada. Kalau memang bisa menyimpulkan ga ada, mungkin kita aja yang belum sadar, atau belum menemukan alasan dibalik sesuatu hal pahit yang telah terjadi. Yang perlu kita lakuin yaitu mencoba untuk memperbaiki hal yang bisa diperbaiki, kalau memang ga bisa ya coba ikhlas dan berusaha supaya hal itu ga terjadi lagi di hidup kita. 

Semangat terus yaa! Have a nice day :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My chapter in new life, started in here...

Hello! To be honest, i don't know how to start it. It's my first time to using blogger, so i want to apologize if there's something weird and making you uncomfortable while reading it๐Ÿ˜Š Aku mau memulai dengan menceritakan latar belakang kenapa akhirnya memutuskan membuat blog ini. So, here it is... Alasan pertama sebenernya karena iseng aja sih, pengen punya tuntutan supaya bisa nulis terus sekalian bisa ngembangin skill nulis juga. Karena jujur aku memang suka nulis apapun, dari hal-hal random yang ada di otak aku, keresahan tentang banyak hal disekitar aku, sampai curhat pun aku lewat tulisan.  Awal mulanya sering ngerasa stress dan muak sendiri sama hal-hal yang ada di otak aku, yang cuman gitu-gitu aja ga ada ujungnya, ga ada penyelesaiannya. Awalnya aku diemin aja, karena aku sendiri juga bingung harus gimana. Sampai akhirnya aku lagi bosen, tiba-tiba nulis sesuatu yang aku lagi pikirin di kertas, dan ngerasa, kok seru ya? Ada sesuatu hal yang ga bisa...

Hey, Happy Birthday!

"Happy Birthday! i wish you all the best" Ucapan paling klasik yang selalu didapatkan semua orang pada setiap tahun. Pasti pernah dong ngerasa bosen dan males untuk sekedar ngucapin selamat ulangtahun  ke orang lain? Tapi di satu sisi saat hari kita  tiba, kita menunggu dan menginginkan orang lain secepatnya mengucapkan selamat  pada kita. Memang egois sih, tapi itu kenyataannya kan? Beberapa orang mungkin memilih untuk ga peduli akan hal ini. Ga suka dengan adanya perayaan ini, atau semacamnya.  Ada juga orang yang memang udah ga peduli dengan adanya ucapan itu sih dari awal, ga masalah mau ada orang yang ngucapin atau ngga. Dan aku salah satu orang yang pernah ada di setiap masa itu. Aku pernah berpikir bahwa hal itu ga penting, ga perlu ada hal itu ya ga masalah. Karena menurutku untuk apa sih kita mengulang itu di setiap tahunnya, yang jujur aku pribadi merasakan bahwa saat hari itu tiba biasa aja, ga ada yang spesial, sama aja seperti hari-hari lainn...

If you can't speak well, then shut up!

Pernah gak sih ngerasa sakit hati sama omongan orang? Dan bingung harus gimana karena gak pengen debat atau gak mau bikin situasi jadi gak nyaman.  Aku yakin itu sesuatu hal yang sering banget dirasain sama banyak orang. Entah pelakunya adalah orang terdekat atau bahkan orang yang gak kita kenal. Walaupun kadang, di situasi tertentu kita juga pernah menjadi pelaku, dan melakukannya pada orang lain secara sadar atau tidak sadar. Emang sih, berpendapat itu gak salah. Semua orang bebas untuk mengungkapkan apapun, apalagi di era yang serba canggih kayak sekarang. Yang dimana orang-orang bisa kasih pendapat melalui berbagai  platform dalam waktu sepersekian detik. Tapi menurutku, saking bebasnya malah banyak orang yang jadi kebablasan dalam berpendapat. Sekarang ini orang-orang lebih sering bicara dulu baru mikir daripada mikir dulu baru bicara.  Mereka gak mempertimbangkan apa pendapat mereka itu layak, sopan dalam penyampaiannya, sudah menggunakan tata bahasa yang baik at...